

Jiwa Dan Raga
Raga dan jiwa tetap satu. Paradigma Agen SBO yang ada juga pada akhirnya ikut demikian. Tidak bisa dipisahkan pada raga dan jiwa. Kedua-duanya saling jadi unsur yang terpenting buat manusia. Kedua-duanya begitu diperlukan. Lantas apa ada yang lebih terpenting diantara ke-2? Jawabannya tentunya ada. Jiwa adalah suatu yang abstrak dalam diri manusia.
Sedang raga demikian sebaliknya, yakni kongkrit, jelas, serta riil. Gerak jiwa tidak bisa kita perhatikan dengan panca indra. Sedang gerak raga pastinya bisa dilihat. Akan tetapi walau gerak jiwa itu tidak bisa dilihat dengan panca indra, akan tetapi dia bisa dirasa. Bahkan juga jiwa itu yang sebetulnya jadi penggerak serta motorik buat raga.
Oleh karenanya, jiwa ialah satu intisari yang ada pada diri manusia. Intisari itu lalu dituangkan jadi raga. Akan tetapi nyatanya ikut tidak semua raga itu bisa merepresentasikan intisari diri kita. Ada jiwa yang cuma ada pada jiwa tersebut. Dalam analogi lainnya, kehidupan kehidupan dunia ialah kongkrit. Sedang kehidupan sesudah dunia, yakni akhirat sifatnya masih tetap abstrak. Manakah yang lebih terpenting pada kehidupan dunia serta akherat?
Tentunya akherat lebih terpenting kan? Akhirat adalah intisari dari kehidupan. Sebab dia ialah arah akhir hidup ini. Jadi, jiwa yang mempunyai karakteristis yang sama juga dengan akhirat tentunya lebih terpenting dibanding raga. Meskipun sebetulnya jiwa itu bukan akhirat tersebut. Coba lihat orang yang cacat fisik! Apa ia tidak miliki hati, tidak miliki cinta, serta perasaan? Tentunya masih tetap miliki.
Walau ada orang yang tidak dikasihkan anugrah pandangan –misalnya- oleh Allah, tapi Ia masih memberi hati atau jiwa. Utamanya, semua manusia tentu mempunyai jiwa, akan tetapi tidak semua mempunyai raga yang komplet. Jadi, jiwa itu lebih terpenting dibanding raga.

KESELARASAN DIRI

TUBUH
adalah total susunan fisik organisme manusia. Badan manusia terdiri atas kepala, leher, batang tubuh, 2 lengan serta 2 kaki. Ketinggian rata-rata badan manusia dewasa kira-kira 1,6 m (5-6 kaki). Ukuran badan manusia kebanyakan dipastikan oleh gen.

JIWA
Jiwa atau Jiva datang dari bahasa Sanskerta yg punya arti "benih kehidupan". Dalam bermacam agama serta filsafat, jiwa merupakan sisi yg bukan jasmaniah (immaterial) dari seorang. Kebanyakan jiwa diakui termasuk pikiran serta kepribadian serta persamaan kata dengan roh, akal, atau awak diri.

PIKIRAN
Pikiran ialah ide serta proses mental. Berfikir sangat mungkin seorang untuk merepresentasikan dunia menjadi mode serta memberi perlakuan terhadapnya dengan efisien sama dengan arah, gagasan, serta kemauan. Kata yang mengacu pada ide serta proses yang sama salah satunya kognisi, pandangan, kesadaran, ide, serta imajinasi.
Keselarasan Jiwa Raga
Kita tdk selayaknya melalaikan keperluan fisik. “Tubuhmu punya hak atasmu”, demikianlah nasihat yg Rasul kasih pada seorang yg ingin terus-terusan berpuasa. Terhadap orang yg ingin terus-terusan shalat selama malam tiada henti. Kebutuhannya mesti dicukupkan, lewat cara mengonsumsi makanan yg sehat serta seimbang. Diistirahatkan dari kecapekan, serta dibugarkan dengan latihan.
Berkenaan latihan fisik, ada teladan yg dapat diambil dari Rasulullah. Beliau ajak Aisyah, istrinya, balapan lari. Beliau kalah waktu Aisyah tetap langsing, serta menebus ‘kekalahan’ beliau itu dengan mengalahkannya selesai Aisyah berlemak. Bahkan juga beliau mengizinkannya diadakannya pertunjukan tarian perang suku Habasyah dalam masjid. Kala itu beliau menyokong Aisyah agar dapat menyaksikannya. Beliau sendiri merupakan orang yg kuat. Satu kali beliau melayani halangan pegulat Rukanah serta mengalahkannya.
Sewaktu banyak anak kecil kala itu berkemauan kuat untuk ikut berperang, mereka (Samurah serta Rafi’) ditest, siapa yg menang bergelut, kuat membanting saingannya, dialah yg diperbolehkan turut. Si bocah Salamah berubah menjadi prajurit lantaran kegesitannya lari dalam sekejap, keberanian serta kepiawaiannya memanah. Pribadi berkenaan memanah, Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, kalau kapabilitas itu merupakan memanah.” Beliau ulangi pengucapan ini 3 kali, yg memperlihatkan begitu utamanya. (Mukhtashar Muslim, 110). Serta sabda yang lain: “Barangsiapa yg belajar melempar, lantas melupakannya, karena itu ia bukan termasuk juga group kami,” ( HR. Muslim ).
Demikian juga dengan penunjukan Usamah bin Zaid yg tetap belasan tahun berubah menjadi panglima perang mendekati wafatnya Rasul, memperlihatkan keselarasan jiwa raganya hingga wajar pimpin peperangan.
Dalam Pendidikan
Juga dalam mendidik anak, dua hal ini mesti diserasikan. Peningkatan jasmani serta rohani. Berusaha anak yg cerdas, pandai, berakhlaq mulia. Dengan fisik yg sehat serta kuat. Merupakan pas lembaga-lembaga pendidikan kita yg telah mengaplikasikan rancangan itu. Seperti pesantren-pesantren atau sekolah-sekolah yg membimbing pengetahuan, pengetahuan serta tehnologi, ikut membekali beberapa murid dengan bermacam ketangkasan serta ketrampilan. Seperti bela diri, renang, atletik, mengendarai kuda dan sebagainya. Satu kala semuanya itu dapat berfaedah.
Tidakkah beberapa pendahulu agama ini memberi saran biar membimbing anak-anak memanah, menunggang kuda serta berenang. Perintah ini mempunyai kandungan pandangan yg jauh ke depan (visioner). Lantaran kita menjadi umat Muhammad mesti mendakwahkan agama ini ke segala seluruh bumi. Dari timur sampai barat, utara serta selatan. Sama seperti janji Allah kalau bumi ini dapat diwariskan terhadap beberapa orang shalih. Karena itu perintah mengajarkan anak berenang, memanah serta naik kuda oleh ‘orang-orang gurun’ dulu kala merupakan satu pengharapan yg benar-benar besar. Juga sekaligus menjadi doa untuk anak cucu kita kelak, kalau mereka dapat kuasai semua seluruh bumi, sama seperti janji-Nya.
Karena itu, anak-anak mesti dididik serta disasarkan semenjak awal. Lantaran sebenarnya dalam diri mereka terdapat kapasitas yg besar. Agar kapasitas itu tdk dilampiaskan pada penyaluran yg salah. Seperti dengan terjadinya tawuran antar pelajar. Tawuran bisa saja adalah bentuk dari keberanian yg salah peletakan. Lantaran dalam tawuran itu yg sama sama bertemu merupakan anak-anak didik kita. Begitupun dengan korban yg jatuh. Tetapi begitu mirisnya kalau hal tersebut malahan bentuk dari pembawaan pengecut yg tdk berani menantang lawan dengan cara jantan, terkecuali dengan main keroyokan. Serta berikut mungkin hasil pendidikan kita yg belumlah mengena. Alangkah bagusnya semisalkan yg mereka lawan merupakan beberapa musuh Allah, musuh agama ini.
Pendidikan memiliki tujuan menemu-kenali, menggali serta mengarahkan kapasitas peserta didik. Jadikan mereka insan-insan yg siap menyambung estafet kekhalifahan manusia di muka bumi. Satu kali lagi mereka mesti dilengkapi dengan cukuplah. Lantaran mereka dapat hidup pada saat yg berlainan dengan saat hidup kita. Bermacam pengetahuan serta tehnologi yg berdasarkan keimanan disemaikan dari kecil dikasihkan dengan cara lengkap. Dengan fisik yg kuat tidak ringan terkena penyakit yg bisa menjadi penghalang. Keberanian mereka mesti selalu dipupuk, biar tidaklah ada perasaan takut pada musuh.